RTP Strategis OPD • Dinarpusda Kab. Banyumas — selaku LKD

Lembar Kerja: Sasaran 2 — Risiko 1

Dokumen pendamping pengisian Aplikasi MRPN (e-office). Setiap isian aplikasi disertai cara berpikir di baliknya dan sumber acuan yang dipakai.  ← Daftar Lembar Kerja

Pernyataan Risiko 1
"Arsip statis perangkat daerah tidak terselamatkan ke lembaga kearsipan daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan akibat belum optimalnya pembinaan dan pengawasan kearsipan oleh Dinarpusda selaku LKD"
1

Penetapan Konteks

Form 1B • Menu "Penetapan Konteks" → Strategis OPD (F1B)
⌨️ Isian aplikasi
Unit Pemilik RisikoDinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kab. Banyumas selaku Lembaga Kearsipan Daerah (LKD)
TujuanMeningkatnya literasi masyarakat dan meningkatnya tata kelola kearsipan
SasaranMeningkatnya kualitas pengelolaan kearsipan sebagai bahan pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan
Indikator sasaranNilai Pengawasan Kearsipan Internal — target 50% (Renja Perubahan 2026; Renstra: 69%) • Tingkat Keberadaan dan Keutuhan Arsip — target 100%
Unsur terancamTingkat Keberadaan dan Keutuhan Arsip (target 100%)
Proses pendukungBMS.APD.01.01 — Pengelolaan Arsip Statis Daerah (akuisisi & penyelamatan arsip statis)
Pemilik risikoKepala Dinas (level strategis)
🧠 Cara berpikir
  1. RTP Strategis melekat pada Tujuan & Sasaran — konteksnya dimulai dari Sasaran 2.
  2. Dinarpusda dibaca selaku LKD: risiko ini tentang pengelolaan kearsipan di seluruh perangkat daerah/kecamatan yang dibina & diawasi, bukan hanya internal dinas.
  3. Indikator yang diserang: Tingkat Keberadaan dan Keutuhan Arsip (target 100%).
  4. Petakan ke proses bisnis yang menopang → BMS.APD.01.01 — Pengelolaan Arsip Statis Daerah (akuisisi & penyelamatan arsip statis).
📚 Sumber acuan
  • Renstra Dinarpusda 2025–2029 — Tabel 3.1: Tujuan, Sasaran 2, indikator
  • Rancangan Akhir Renja Perubahan 2026 — target Nilai Pengawasan Kearsipan Internal direvisi 69% → 50%
  • Peta Proses Bisnis Dinarpusda — BMS.APD.01.01
2

Identifikasi Risiko

Form 2B • Menu "Identifikasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
Pernyataan risiko"Arsip statis perangkat daerah tidak terselamatkan ke lembaga kearsipan daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan akibat belum optimalnya pembinaan dan pengawasan kearsipan oleh Dinarpusda selaku LKD"
KategoriRO — Risiko Operasional
SumberInternal
PenyebabPembinaan dan pengawasan kearsipan oleh Dinarpusda selaku LKD belum optimal — realisasi pengawasan arsip dinamis 0% s.d. TW II 2026; baru 50% PD menyelenggarakan kearsipan sesuai NSPK (2025)
AkibatArsip statis milik perangkat daerah tidak terselamatkan ke LKD; arsip bernilai sejarah dan pertanggungjawaban terancam hilang → indikator Tingkat Keberadaan dan Keutuhan Arsip (target 100%) terancam
🧠 Cara berpikir
  1. Mulai dari kondisi nyata (hasil pengawasan kearsipan + data Renja), bukan karangan.
  2. Ubah kondisi menjadi peristiwa: apa yang terjadi + akibat apa (penyebabnya).
  3. Uji 4 aturan: bukan negasi tujuan ✓ • peristiwa konkret ✓ • penyebab current & real ✓ • akibat terkait sasaran/indikator ✓
  4. Bahasa formal birokrasi dipakai (mis. 'belum sepenuhnya sesuai NSPK') — hindari istilah kasual.
📚 Sumber acuan
  • LAKI Konsolidasi Dinas/Badan — hasil pengawasan kearsipan internal (kondisi faktual vs rekomendasi)
  • LAKI Konsolidasi Kecamatan — temuan serah terima arsip statis
  • Rancangan Akhir Renja Perubahan 2026 — capaian TW II, pagu, analisis SWOT
3

Analisis Risiko

Form 3B • Menu "Analisis Risiko" — isi skor + kolom Catatan (wajib)
⌨️ Isian aplikasi
Skala kemungkinan4 — Sering terjadi
Catatan Kemungkinan"Pembinaan dan pengawasan kearsipan oleh LKD belum optimal — realisasi sub-kegiatan Pengawasan Arsip Dinamis 0% s.d. TW II 2026 (masih menunggu verifikasi Arpus Provinsi Jateng) dan baru 50% perangkat daerah menyelenggarakan kearsipan sesuai NSPK (2025). Kondisi masih berlangsung sehingga risiko sering terjadi (frekuensi 30–50%)."
Catatan Dampak"Arsip statis yang tidak terselamatkan ke LKD berpotensi hilang permanen dan tidak dapat dipulihkan, mengancam langsung indikator Tingkat Keberadaan dan Keutuhan Arsip (target 100%) serta melemahkan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan — berdampak signifikan."
Skala dampak4 — Signifikan
Skor / level4 × 4 = 16 → Tinggi (oranye)
Pengendalian yang adaBelum ada pengendalian yang memadai
Skor residual4 × 4 = 16 → residual: Tinggi (oranye)
🧠 Cara berpikir
  1. Kemungkinan: pengawasan 0% + 50% PD belum sesuai NSPK + kondisi masih berlangsung → frekuensi 30–50% → skor 4.
  2. Dampak: area Kepentingan Publik — arsip statis yang hilang tidak dapat dipulihkan; menyerang langsung indikator keutuhan arsip → skor 4 (signifikan).
  3. Catatan: sub-kegiatan akuisisi arsip statis anggarannya besar (Rp110,7 jt, realisasi 116%) — sehingga penyebab dirumuskan pada aspek prosedural (belum sesuai ketentuan), bukan ketiadaan anggaran.
  4. Catatan ditulis berpola: fakta kondisi + kaitan ke kriteria tabel — cantumkan angka/data dokumen sebagai bukti.
  5. Skor final idealnya via FGD/kuesioner (modus); ini penilaian awal analis.
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — Tabel 2 (kemungkinan), Tabel 3 (dampak), Tabel 4 (heatmap)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — kolom Catatan wajib
  • heatmap.html — verifikasi visual
4

Evaluasi Risiko

Form 4B • Menu "Evaluasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
Skor residual4 × 4 = 16 → Tinggi (oranye)
Kriteria yang dapat diterimaDitetapkan pimpinan — contoh: hanya menerima sampai level Sedang
Hasil evaluasiPrioritas 2
PerlakuanDimitigasi (mitigate) — wajib dilakukan pengendalian (Tabel 5 — level Tinggi)
🧠 Cara berpikir
  1. Bandingkan level residual dengan selera risiko pimpinan.
  2. Tentukan urutan prioritas: merah dulu (R2), lalu oranye (R1, R3), lalu kuning (R4, R5).
  3. Perlakuan mengikuti Tabel 5.
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — Tabel 4 (level) & Tabel 5 (perlakuan)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Evaluasi Risiko
5

Rencana Penanganan

Form 5B • Menu "Rencana Penanganan Risiko" — inti dokumen RTP
⌨️ Isian aplikasi
Akar penyebab (Why)Why-1: pembinaan & pengawasan LKD belum optimal → Why-2: belum ada pemetaan arsip statis potensial di PD dan jadwal akuisisi yang sistematis → Why-3 (akar): belum ada perencanaan akuisisi berbasis pendataan kebutuhan
Uraian penanganan(1) Mendata arsip statis potensial pada seluruh perangkat daerah; (2) Menyusun jadwal/program akuisisi arsip statis; (3) Mengintensifkan pembinaan dan pengawasan kearsipan ke PD/kecamatan; (4) Memfasilitasi berita acara dan daftar arsip pada setiap serah terima arsip statis
Jadwal2026–2027
Indikator penangananPeta arsip statis potensial tersusun; jumlah arsip statis yang diakuisisi sesuai ketentuan; berita acara + daftar arsip lengkap pada setiap serah terima
Penanggung jawab (pemilik risiko)Kepala Dinas
Pengelola risikoKepala Bidang Pengelolaan dan Pelestarian Arsip
Anggaran dibutuhkanDiisi sesuai perhitungan kebutuhan
🧠 Cara berpikir
  1. Telusuri penyebab dengan "kenapa" berulang sampai ke akar yang bisa ditindak.
  2. Rancang penanganan yang menyentuh akar, bukan gejala — termasuk advokasi regulasi & anggaran.
  3. Pastikan tiap penanganan punya indikator & jadwal — akan dipantau triwulanan (Form 7).
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — struktur Form 5B (kolom 1–17)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Rencana Penanganan Risiko
  • Berita Acara Verifikasi Renja 2026 (Bapperida) — register risiko & rencana penanganan sebagai lampiran dokumen

✅ Checklist siap input ke aplikasi

  1. Login e-office → Aplikasi Manajemen Kinerja → menu Pengendalian → MRPN
  2. Penetapan Konteks (F1B): isi profil + pilih Sasaran 2
  3. Identifikasi (Form 2): salin pernyataan risiko + kategori + penyebab + akibat
  4. Analisis (Form 3): input skor 4 & 4 beserta kedua kolom Catatan
  5. Evaluasi (Form 4): bandingkan dengan selera risiko pimpinan → tetapkan prioritas & perlakuan
  6. Rencana Penanganan (Form 5): salin akar penyebab, uraian penanganan, jadwal, indikator, PIC
⚠️ Catatan validasi: skor pada lembar ini adalah penilaian awal analis berdasarkan dokumen (LAKI, Renja, hasil pengawasan kearsipan). Skor final sebaiknya diputuskan melalui FGD/kuesioner bersama pemilik risiko (diambil modus), dan selera risiko ditetapkan oleh pimpinan.