RTP Strategis OPD • Dinarpusda Kab. Banyumas

Lembar Kerja: Sasaran 1 — Risiko TKM 3

Dokumen pendamping pengisian Aplikasi MRPN (e-office). Setiap isian aplikasi disertai cara berpikir di baliknya dan sumber acuan yang dipakai.  ← Daftar Lembar Kerja

Pernyataan Risiko TKM 3
"Kegiatan pembudayaan kegemaran membaca yang bersifat seremonial dan tidak berkelanjutan"
1

Penetapan Konteks

Form 1B • Menu "Penetapan Konteks" → Strategis OPD (F1B)
⌨️ Isian aplikasi
Unit Pemilik RisikoDinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kab. Banyumas
TujuanMeningkatnya literasi masyarakat dan meningkatnya tata kelola kearsipan
SasaranMeningkatnya Literasi Masyarakat
Indikator sasaranNilai Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) — target 69 (2026); realisasi 67,39 (110,48% dari target 61) — sudah baik
Unsur terancamKomponen TKM: kebiasaan membaca harian — frekuensi, durasi, jumlah buku dibaca
Proses pendukungBMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca Tingkat Daerah Kabupaten/Kota
Pemilik risikoKepala Dinas (level strategis)
🧠 Cara berpikir
  1. RTP Strategis melekat pada Tujuan & Sasaran — konteksnya dimulai dari Sasaran 1, indikator TKM.
  2. TKM diukur melalui survei Perpusnas: TGM=(0,3TFM+0,3TDM+0,3TJB)+(0,05FAI+0,05DAI) — frekuensi & durasi membaca, jumlah buku dibaca, serta frekuensi & durasi akses internet.
  3. Petakan ke proses bisnis yang menopang pembudayaan kegemaran membaca → BMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca.
📚 Sumber acuan
  • Renstra Dinarpusda 2025–2029 — Tabel 3.1 — Tujuan, Sasaran 1, indikator TKM target 69 (realisasi 67,39)
  • SE Bupati No. 000.7/2227/VI/2026 Lampiran I — definisi RTP Strategis
  • Peta Proses Bisnis Dinarpusda — BMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca
2

Identifikasi Risiko

Form 2B • Menu "Identifikasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
Pernyataan risiko"Kegiatan pembudayaan kegemaran membaca yang bersifat seremonial dan tidak berkelanjutan"
KategoriRO — Risiko Operasional (ketidakcukupan desain proses program: orientasi output vs outcome)
SumberInternal
PenyebabKegiatan pembudayaan bertumpu pada lomba/penghargaan yang overachieved 366% (22 orang: lomba bertutur 6, video konten literasi 10, resensi 6) — bersifat event sesaat dan tidak membangun frekuensi/durasi membaca harian yang diukur TKM
AkibatAnggaran dan energi habis untuk seremoni tanpa mengangkat kebiasaan membaca → komponen TKM (frekuensi, durasi, jumlah buku) tidak terdongkrak → target 69 berisiko tidak tercapai optimal
🧠 Cara berpikir
  1. Mulai dari kondisi nyata lapangan, bukan karangan — termasuk info DAK non-fisik Perpusnas 2025–2027.
  2. Ubah kondisi menjadi peristiwa: apa yang terjadi + akibat apa (penyebabnya).
  3. Uji 4 aturan: bukan negasi tujuan ✓ • peristiwa konkret ✓ • penyebab current & real ✓ • akibat terkait sasaran/indikator ✓
  4. Kategori RO: bersumber dari ketidakcukupan proses & sumber daya internal.
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I pedoman — aturan pernyataan risiko + Tabel 1 (kategori)
  • Kondisi lapangan Dinarpusda (terkonfirmasi) — capaian TKM 67,39 sudah baik; kegiatan 2025–2027 ditopang DAK non-fisik Perpusnas
  • Rancangan Akhir Renja Perubahan Dinarpusda 2026 — Tabel 2.1.b (capaian s.d. TW II) & matriks pagu sub-kegiatan Program Pembinaan Perpustakaan
3

Analisis Risiko

Form 3B • Menu "Analisis Risiko" — isi skor + kolom Catatan (wajib)
⌨️ Isian aplikasi
Skala kemungkinan3 — Kadang terjadi
Catatan Kemungkinan"Pola bertumpu pada event seremonial berulang setiap siklus tahunan — Pemberian Penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca terealisasi 366% (22 dari 6 orang) sementara kegiatan pembinaan kebiasaan (sosialisasi) tersendat. Pola yang berulang → kadang terjadi (skor 3). Framing sustain: TKM 67,39 sudah baik; risikonya adalah stagnasi karena energi program tidak diarahkan ke pembentuk kebiasaan."
Skala dampak2 — Kecil
Catatan Dampak"Kegiatan seremonial tidak menurunkan angka TKM secara langsung (capaian 67,39 sudah baik) — yang hilang adalah peluang akselerasi menuju target 69. Dampaknya kecil: bersifat opportunity loss pada area kepentingan publik, bukan kerusakan capaian yang sudah ada."
Skor / level3 × 2 = 6 → Sedang (kuning)
Pengendalian yang adaBelum ada
Skor residual3 × 2 = 6 → residual: Sedang (kuning)
🧠 Cara berpikir
  1. Kemungkinan: pola event-seremonial berulang tiap tahun anggaran → kadang terjadi, skor 3.
  2. Dampak: tidak meruntuhkan capaian yang sudah baik, hanya menghilangkan peluang peningkatan → kecil, skor 2.
  3. Contoh kasus level Sedang: tidak wajib ditangani seperti level Tinggi/Sangat Tinggi, tetapi tetap dipertimbangkan sesuai prioritas — bandingkan dengan Risiko 1 & 3 IPLM (merah) yang harus didahulukan.
  4. Catatan ditulis dengan pola: fakta kondisi + kaitan ke kriteria tabel — agar skor bisa dipertanggungjawabkan saat reviu Inspektorat.
  5. Skor final idealnya diputuskan lewat FGD/kuesioner (diambil modus); angka di sini adalah penilaian awal analis.
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — Tabel 2 (kemungkinan), Tabel 3 (dampak), Tabel 4 (heatmap)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — kolom Catatan Kemungkinan & Catatan Dampak wajib diisi
  • heatmap.html — verifikasi visual
  • Rancangan Akhir Renja Perubahan Dinarpusda 2026 — Tabel 2.1.b (capaian s.d. TW II) & matriks pagu sub-kegiatan Program Pembinaan Perpustakaan
4

Evaluasi Risiko

Form 4B • Menu "Evaluasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
Skor residual3 × 2 = 6 → Sedang (kuning)
Kriteria yang dapat diterimaDitetapkan pimpinan — contoh: hanya menerima sampai level Sedang
Hasil evaluasiPrioritas 3 (setelah risiko-risiko IPLM berlevel Sangat Tinggi dan Tinggi)
PerlakuanDipertimbangkan untuk ditangani sesuai prioritas dan ketersediaan sumber daya (Tabel 5 — level Sedang)
🧠 Cara berpikir
  1. Bandingkan level residual dengan selera risiko pimpinan.
  2. Tentukan urutan prioritas antar-risiko: merah dulu, lalu oranye, lalu kuning.
  3. Perlakuan mengikuti Tabel 5.
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — Tabel 4 (level) & Tabel 5 (perlakuan)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Evaluasi Risiko
5

Rencana Penanganan

Form 5B • Menu "Rencana Penanganan Risiko" — inti dokumen RTP
⌨️ Isian aplikasi
Akar penyebab (Why)Why-1: kegiatan bertumpu pada lomba seremonial → Why-2: indikator keberhasilan kegiatan masih berorientasi output event (jumlah peserta/penghargaan) → Why-3 (akar): belum ada desain program pembudayaan yang berorientasi outcome kebiasaan membaca (frekuensi/durasi)
Uraian penanganan(1) Mendesain ulang kegiatan pembudayaan berorientasi kebiasaan (tantangan membaca, klub baca, reading habit program); (2) Menjadikan lomba/penghargaan sebagai pintu masuk, bukan tujuan akhir; (3) Mengukur outcome melalui survei mini kegemaran membaca berkala
Jadwal2026–2027
Indikator penangananJumlah program berbasis kebiasaan membaca; hasil survei mini kegemaran membaca
Penanggung jawab (pemilik risiko)Kepala Dinas
Pengelola risikoKepala Bidang Perpustakaan
Anggaran dibutuhkanDAK non-fisik Perpusnas (tersedia s.d. 2027)
🧠 Cara berpikir
  1. Telusuri penyebab dengan "kenapa" berulang sampai ke akar yang bisa ditindak.
  2. Rancang penanganan yang menyentuh akar, bukan gejala.
  3. Pastikan tiap penanganan punya indikator & jadwal — akan dipantau triwulanan (Form 7).
📚 Sumber acuan
  • Lampiran I — struktur Form 5B (kolom 1–17)
  • Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Rencana Penanganan Risiko

✅ Checklist siap input ke aplikasi

  1. Login e-office → Aplikasi Manajemen Kinerja → menu Pengendalian → MRPN
  2. Penetapan Konteks (F1B): isi profil + pilih Sasaran 1
  3. Identifikasi (Form 2): salin pernyataan risiko + kategori + penyebab + akibat
  4. Analisis (Form 3): input skor 3 & 2 beserta kedua kolom Catatan
  5. Evaluasi (Form 4): bandingkan dengan selera risiko pimpinan → tetapkan prioritas & perlakuan
  6. Rencana Penanganan (Form 5): salin akar penyebab, uraian penanganan, jadwal, indikator, PIC
⚠️ Catatan validasi: skor pada lembar ini adalah penilaian awal analis. Skor final sebaiknya diputuskan melalui FGD/kuesioner bersama pemilik risiko (diambil modus), dan selera risiko ditetapkan oleh pimpinan.