Pernyataan Risiko TKM 1
"Rendahnya realisasi kegiatan pembudayaan kegemaran membaca (14 dari 115 lokus)"
1
Penetapan Konteks
Form 1B • Menu "Penetapan Konteks" → Strategis OPD (F1B)
⌨️ Isian aplikasi
| Unit Pemilik Risiko | Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kab. Banyumas |
| Tujuan | Meningkatnya literasi masyarakat dan meningkatnya tata kelola kearsipan |
| Sasaran | Meningkatnya Literasi Masyarakat |
| Indikator sasaran | Nilai Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) — target 69 (2026); realisasi 67,39 (110,48% dari target 61) — sudah baik |
| Unsur terancam | Komponen TKM: frekuensi & durasi membaca, jumlah buku dibaca — melalui kegiatan pembudayaan |
| Proses pendukung | BMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca Tingkat Daerah Kabupaten/Kota |
| Pemilik risiko | Kepala Dinas (level strategis) |
🧠 Cara berpikir
- RTP Strategis melekat pada Tujuan & Sasaran — konteksnya dimulai dari Sasaran 1, indikator TKM.
- TKM diukur melalui survei Perpusnas: TGM=(0,3TFM+0,3TDM+0,3TJB)+(0,05FAI+0,05DAI) — frekuensi & durasi membaca, jumlah buku dibaca, serta frekuensi & durasi akses internet.
- Petakan ke proses bisnis yang menopang pembudayaan kegemaran membaca → BMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca.
📚 Sumber acuan
Renstra Dinarpusda 2025–2029 — Tabel 3.1 — Tujuan, Sasaran 1, indikator TKM target 69 (realisasi 67,39)SE Bupati No. 000.7/2227/VI/2026 Lampiran I — definisi RTP StrategisPeta Proses Bisnis Dinarpusda — BMS.APD.04.01 — Pembudayaan Gemar Membaca
2
Identifikasi Risiko
Form 2B • Menu "Identifikasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
| Pernyataan risiko | "Rendahnya realisasi kegiatan pembudayaan kegemaran membaca (14 dari 115 lokus)" |
| Kategori | RO — Risiko Operasional (ketidakcukupan proses pelaksanaan internal) |
| Sumber | Internal |
| Penyebab | Pelaksanaan sub-kegiatan Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi tersendat: realisasi 14 dari 115 lokus; serapan anggaran Rp3.896.300 dari pagu Rp296.155.000 (1,32%) — padahal kegiatan 2025–2027 ditopang DAK non-fisik Perpusnas, sehingga ini risiko eksekusi, bukan ketiadaan anggaran |
| Akibat | Fondasi pembudayaan kegemaran membaca melemah → komponen TKM (frekuensi, durasi, jumlah buku dibaca) tergerus → capaian TKM 67,39 berisiko tidak mencapai target 69 |
🧠 Cara berpikir
- Mulai dari kondisi nyata lapangan, bukan karangan — termasuk info DAK non-fisik Perpusnas 2025–2027.
- Ubah kondisi menjadi peristiwa: apa yang terjadi + akibat apa (penyebabnya).
- Uji 4 aturan: bukan negasi tujuan ✓ • peristiwa konkret ✓ • penyebab current & real ✓ • akibat terkait sasaran/indikator ✓
- Kategori RO: bersumber dari ketidakcukupan proses & sumber daya internal.
📚 Sumber acuan
Lampiran I pedoman — aturan pernyataan risiko + Tabel 1 (kategori)Kondisi lapangan Dinarpusda (terkonfirmasi) — capaian TKM 67,39 sudah baik; kegiatan 2025–2027 ditopang DAK non-fisik PerpusnasRancangan Akhir Renja Perubahan Dinarpusda 2026 — Tabel 2.1.b (capaian s.d. TW II) & matriks pagu sub-kegiatan Program Pembinaan Perpustakaan
3
Analisis Risiko
Form 3B • Menu "Analisis Risiko" — isi skor + kolom Catatan (wajib)
⌨️ Isian aplikasi
| Skala kemungkinan | 3 — Kadang terjadi |
| Catatan Kemungkinan | "Penyebab risiko bersifat eksekusi dan masih berlangsung — realisasi Sosialisasi Budaya Baca baru 14 dari 115 lokus dengan serapan anggaran 1,32% (Rp3,9 juta dari Rp296,2 juta). Namun dana tersedia melalui DAK non-fisik Perpusnas s.d. 2027, sehingga hambatan bukan struktural permanen melainkan dapat diperbaiki dalam siklus berjalan — kejadian bersifat kadang terjadi (skor 3). Framing sustain: posisi TKM 67,39 sudah baik; risiko ini tentang menjaga momentum agar tidak turun." |
| Skala dampak | 3 — Moderat |
| Catatan Dampak | "Melemahnya fondasi pembudayaan menekan komponen frekuensi, durasi, dan jumlah buku dibaca dalam formula TKM — area kepentingan publik karena menyangkut kebiasaan membaca masyarakat. Dampaknya moderat terhadap target TKM 69: kegagalan satu sub-kegiatan tidak serta-merta meruntuhkan angka (TKM diukur survei perilaku yang dipengaruhi banyak faktor), tetapi bila berlanjut akan menggerus capaian." |
| Skor / level | 3 × 3 = 9 → Sedang (kuning) |
| Pengendalian yang ada | Belum ada |
| Skor residual | 3 × 3 = 9 → residual: Sedang (kuning) |
🧠 Cara berpikir
- Kemungkinan: penyebab bersifat eksekusi (bukan struktural/anggaran — DAK non-fisik tersedia s.d. 2027) dan masih dapat diperbaiki dalam siklus berjalan → kadang terjadi, skor 3.
- Dampak: area Kepentingan Publik — fondasi pembudayaan yang melemah menekan komponen frekuensi/durasi/jumlah buku dalam TKM → moderat, skor 3.
- Contoh kasus level Sedang: tidak wajib ditangani seperti level Tinggi/Sangat Tinggi, tetapi tetap dipertimbangkan sesuai prioritas — bandingkan dengan Risiko 1 & 3 IPLM (merah) yang harus didahulukan.
- Catatan ditulis dengan pola: fakta kondisi + kaitan ke kriteria tabel — agar skor bisa dipertanggungjawabkan saat reviu Inspektorat.
- Skor final idealnya diputuskan lewat FGD/kuesioner (diambil modus); angka di sini adalah penilaian awal analis.
📚 Sumber acuan
Lampiran I — Tabel 2 (kemungkinan), Tabel 3 (dampak), Tabel 4 (heatmap)Buku Panduan Aplikasi MRPN — kolom Catatan Kemungkinan & Catatan Dampak wajib diisiheatmap.html — verifikasi visualRancangan Akhir Renja Perubahan Dinarpusda 2026 — Tabel 2.1.b (capaian s.d. TW II) & matriks pagu sub-kegiatan Program Pembinaan Perpustakaan
4
Evaluasi Risiko
Form 4B • Menu "Evaluasi Risiko"
⌨️ Isian aplikasi
| Skor residual | 3 × 3 = 9 → Sedang (kuning) |
| Kriteria yang dapat diterima | Ditetapkan pimpinan — contoh: hanya menerima sampai level Sedang |
| Hasil evaluasi | Prioritas 3 (setelah risiko-risiko IPLM berlevel Sangat Tinggi dan Tinggi) |
| Perlakuan | Dipertimbangkan untuk ditangani sesuai prioritas dan ketersediaan sumber daya (Tabel 5 — level Sedang) |
🧠 Cara berpikir
- Bandingkan level residual dengan selera risiko pimpinan.
- Tentukan urutan prioritas antar-risiko: merah dulu, lalu oranye, lalu kuning.
- Perlakuan mengikuti Tabel 5.
📚 Sumber acuan
Lampiran I — Tabel 4 (level) & Tabel 5 (perlakuan)Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Evaluasi Risiko
5
Rencana Penanganan
Form 5B • Menu "Rencana Penanganan Risiko" — inti dokumen RTP
⌨️ Isian aplikasi
| Akar penyebab (Why) | Why-1: pelaksanaan sosialisasi tersendat → Why-2: penjadwalan lokus dan koordinasi dengan satuan pendidikan/masyarakat belum optimal → Why-3 (akar): belum ada peta lokus prioritas dan mekanisme monitoring serapan DAK non-fisik yang berkala |
| Uraian penanganan | (1) Menyusun peta 115 lokus prioritas sosialisasi per triwulan; (2) Mempercepat koordinasi dengan satuan pendidikan dasar dan masyarakat; (3) Monitoring bulanan serapan DAK non-fisik Perpusnas; (4) Mengintegrasikan sosialisasi dengan layanan inklusi sosial yang sudah berjalan (17 perpustakaan) |
| Jadwal | 2026–2027 |
| Indikator penanganan | Jumlah lokus sosialisasi terealisasi; % serapan DAK non-fisik; laporan monitoring triwulanan |
| Penanggung jawab (pemilik risiko) | Kepala Dinas |
| Pengelola risiko | Kepala Bidang Perpustakaan |
| Anggaran dibutuhkan | DAK non-fisik Perpusnas (tersedia s.d. 2027) |
🧠 Cara berpikir
- Telusuri penyebab dengan "kenapa" berulang sampai ke akar yang bisa ditindak.
- Rancang penanganan yang menyentuh akar, bukan gejala.
- Pastikan tiap penanganan punya indikator & jadwal — akan dipantau triwulanan (Form 7).
📚 Sumber acuan
Lampiran I — struktur Form 5B (kolom 1–17)Buku Panduan Aplikasi MRPN — Menu Rencana Penanganan Risiko
✅ Checklist siap input ke aplikasi
- Login e-office → Aplikasi Manajemen Kinerja → menu Pengendalian → MRPN
- Penetapan Konteks (F1B): isi profil + pilih Sasaran 1
- Identifikasi (Form 2): salin pernyataan risiko + kategori + penyebab + akibat
- Analisis (Form 3): input skor 3 & 3 beserta kedua kolom Catatan
- Evaluasi (Form 4): bandingkan dengan selera risiko pimpinan → tetapkan prioritas & perlakuan
- Rencana Penanganan (Form 5): salin akar penyebab, uraian penanganan, jadwal, indikator, PIC
⚠️ Catatan validasi: skor pada lembar ini adalah penilaian awal analis. Skor final sebaiknya diputuskan melalui FGD/kuesioner bersama pemilik risiko (diambil modus), dan selera risiko ditetapkan oleh pimpinan.